Saturday, December 8, 2012

Alasan Mengapa Nabi Muhammad Menduduki Kedudukan Tertinggi



Salah satu jawabannya adalah karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  adalah yang paling berat ujiannya dan yang paling sabar.
عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: «الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ البَلَاءُ بِالعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
Dari Mus’ab dari Sa’ad dari bapaknya berkata, aku berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya?” Kata beliau: “Para Nabi, kemudian yang semisal mereka dan yang semisal mereka. Dan seseorang diuji sesuai dengan kadar dien (keimanannya). Apabila diennya kokoh, maka berat pula ujian yang dirasakannya; kalau diennya lemah, dia diuji sesuai dengan kadar diennya. Dan seseorang akan senantiasa ditimpa ujian demi ujian hingga dia dilepaskan berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak mempunyai dosa.” (HR. At-Tirmidzi no.2398, dishahihkan oleh syaikh Al-Albani)
Mari kita tinjau ujian dan kesabaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mungkin kita tidak membandingkannya dulu  dengan manusia biasa seperti ulama dan orang sholih atau para sahabat radhiallahu ‘anhum tetapi kita bandingkan dengan sesama para nabi ‘alaihimussalam . Sehingga beliau mendapatkan kedudukan lebih diatas para nabi yang lain.
Pertama: Ketika Nabi Sulaiman ‘alaihis salam berdoa dan memohon meminta diberi kerajaan:
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
“Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi.” (QS. Shad: 38)
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  memilih hidup sederhana sebagai hamba ketika ditawarkan kerajaan, hal ini agar menjadi contoh bagi semesta alam bahwa beliau tidak punya urusan yang banyak di dunia.
كَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ يُحَدِّثُ، أَنَّ اللهَ أَرْسَلَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَلَكًا مِنَ الْمَلَائِكَةِ مَعَ الْمَلَكِ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَقَالَ لَهُ الْمَلَكُ: يَا مُحَمَّدُ، إِنَّ اللهَ عَزَّ جَلَّ يُخَيِّرُكَ بَيْنَ أَنْ تَكُونَ نَبِيًّا عَبْدًا، أَوْ نَبِيًّا مَلِكًا، فَالْتَفَتَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى جِبْرِيلَ كَالْمُسْتَشِيرِ، فَأَوْمَأَ إِلَيْهِ أَنْ تَوَاضَعْ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «بَلْ نَبِيًّا عَبْدًا»
“Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma menceritakan bahwa Allah pernah mengutus salah satu malaikat  bersama malaikat  Jibril ‘alaihissalam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. kemudian malaikat  tersebut berkata, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa jalla memberikan pilihan bagimu (Muhammad), apakah engkau mau menjadi sebagai seorang hamba dan Nabi, ataukah engkau mau menjadi sebagai seorang nabi dan raja?”. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menoleh kepada Jibril seolah-olah meminta pendapat beliau, maka Jibril memberi isyarat kepada Nabi agar beliau  tawadhu. Kemudian rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Aku ingin menjadi sebagai seorang nabi dan hamba”. (Mu’jam Kabir litthabrani no.10686, tahqiq Hamdi bin Abdul majid As-Salafi, Mu’jam Al-Aushoth no. 6937 dan Az-Zuhdi Al-Kabir lilbaihaqi no. 447)
Kedua: Ketika Nabi Nuh ‘alaihis salam berdakwah kepada kaumnya dan tidak ada yang mau beriman kecuali sedikit sekali, maka nabi Nuh‘alaihissalam berdoa agar semua orang kafir tersebut dimusnahkan seluruhnya dari muka bumi dengan banjir besar:
وَقَالَ نُوحٌ رَّبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّاراًْ وَقَالَ نُوحٌ رَّبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّاراً
Nuh berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat ma’siat lagi sangat kafir.’ (QS. Nuh: 26-27)
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah ke Thoif sekaligus meminta perlindungan. Kemudian mereka menolak bahkan mengejek dan mencaci maki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengusir melempar dengan batu sampai tubuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia sampai berdarah-darah. Akan tetapi  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam malahan mendoakan mereka,
أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلاَبِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ، لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
“Bahkan aku berharap Allah akan mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang akan menyembah Allah semata, tidak disekutukanNya dengan apa pun” (HR. Bukhari no. 3231)
Begitu juga ketika Nabi Yunus ‘alaihis salam berdakwah kepada kaumnya dan kemudian menolaknya, maka beliau terlalu cepat meninggalkan kaumnya dan akhirnya beliau masuk ke perut ikan.
فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُن كَصَاحِبِ الْحُوتِ إِذْ نَادَى وَهُوَ مَكْظُومٌْ لَوْلَا أَن تَدَارَكَهُ نِعْمَةٌ مِّن رَّبِّهِ لَنُبِذَ بِالْعَرَاء وَهُوَ مَذْمُومٌْ فَاجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَجَعَلَهُ مِنَ الصَّالِحِينَ
“Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdo’a sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya). Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela. Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh”. (QS. Al Qolam: 48-50)
Ketiga: Ketika nabi Ayyub alaihissalam menghadapi nusyuz [ketidakpatuhan] istrinya, maka beliau bersumpah akan memukulnya 100 kali, kemudian Allah Ta’ala dalam Al-Quran memberikan jalan keluar agar beliau tidak membatalkan sumpah dan tidak juga menyakiti istrinya.
وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثاً فَاضْرِب بِّهِ وَلَا تَحْنَثْ إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِراً نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ
“Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat ta’at (kepada Tuhan-nya) .” (QS. Shaad: 44)
Ketika semua istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam nusyuz [tidak patuh], maka beliau tidak langsung marah, langsung main pukul ataupun langsung mengancam cerai. Tetapi beliau menjauhi semua istrinya selama sebulan. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalah dengan tinggal dikandang unta atau di riwayat lain di dalam sebuah kamar yang disebut khazanah tidak dengan mengusir mereka dari rumah beliau.
اِعْتَزَلَ نِسَاءَهُ شَهْرًا
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjauhi istri-istrinya selama sebulan.” (HR. Muslim II/763 no 1084 dari Jabir bin Abdillah)
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjauhi sebulan agar para istri tersebut bisa berpikir jernih tentang apa akibat yang mereka perbuat. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحاً جَمِيلاًْ وَإِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنكُنَّ أَجْراً عَظِيماً
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, jika kalian menghendaki kehidupan dunia dan segala perhiasannya, maka kemarilah, aku akan memenuhi keinginanmu itu dan aku akan menceraikanmu secara baik-baik. Dan jika kalian menginginkan (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di kampung akhirat, sesungguhnya Allah akan menyediakan bagi hamba-hamba yang baik di antara kalian pahala yang besar.” (QS. Al Ahzab: 28)
Keempat: Ketika nabi Musa ‘alaihis salam pulang dari bukit Thursina dan mendapati kaumnya membuat sesembahan sapi betina. Sedangkan saat itu Nabi Harun ‘alaihissalam yang merupakan teman seperjuangan nabi Musa bersama mereka. Maka Nabi Musa langsung marah  (karena Allah) kepada Nabi Harun ‘alaihissalam, kemudian melempar kitab suci Taurat dan menarik Nabi Harun ‘alaihissalam, baru kemudian nabi Harun ‘alaihissalam menyampaikan udzur/alasan, Al-Quran menceritakan,
قَالَ يَا هَارُونُ مَا مَنَعَكَ إِذْ رَأَيْتَهُمْ ضَلُّوا * أَلا تَتَّبِعَنِ أَفَعَصَيْتَ أَمْرِي * قَالَ يَا ابْنَ أُمَّ لا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِي وَلا بِرَأْسِي إِنِّي خَشِيتُ أَنْ تَقُولَ فَرَّقْتَ بَيْنَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَمْ تَرْقُبْ قَوْلِي
“Berkata Musa: “Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku?”. Harun menjawab: “Hai putra ibuku janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku): “Kamu telah memecah antara Bani Israel dan kamu tidak memelihara amanatku” (QS. Thaha : 92-94).
Dan di surat yang lain,
وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَى إِلَى قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفاً قَالَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُونِي مِن بَعْدِيَ أَعَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ وَأَلْقَى الألْوَاحَ وَأَخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ قَالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكَادُواْ يَقْتُلُونَنِي فَلاَ تُشْمِتْ بِيَ الأعْدَاء وَلاَ تَجْعَلْنِي مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
“Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia: “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu ? Dan Musapun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya, Harun berkata: “Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim”. (QS. Al A’raf: 150)
Maka ketika salah seorang teman seperjuangan beliau (sahabat) melakukan pembocoran rahasia penyerangan ke Mekkah kepada orang kafir di Mekkah.  Ini adalah pengkhianatan besar, akan tetapi Beliau memaafkannya karena sahabat tersebut punya ‘uzdur/alasan. Sahabat tersebut adalah Hatib bin Balta’ah radhiallahu ‘anhu.
Ketika Umar bin Al Khattab radhiallahu ‘anhu menawarkan diri,
“Wahai Rasulullah, biarkan aku memenggal lehernya, karena dia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya serta bersikap munafik.”
Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dengan bijak menjawab,
“Sesungguhnya Hatib pernah ikut perang Badar… (Allah berfirman tentang pasukan Badar): Berbuatlah sesuka kalian, karena kalian telah Saya ampuni.”
Umar pun kemudian menangis, sambil mengatakan, “Allah dan rasulNya lebih mengetahui.”
Kisah adalah Hatib bin Balta’ah radhiallahu ‘anhu diabadikan dalam Al-Quran:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan musuhKu dan musuhmu sebagai teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang, padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah….” (QS. Al  Mumtahanah: 1]
Demikianlah perbandingan Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dengan para Nabi yang lain. Perlu diingat, ini bukan berarti nabi yang lain tidak sabar dan tidak berat ujiannya. Lihatlah bagaimana kisah cobaan berat nabi Ayyub ‘alaihissalam, kisah perjuangan berat dan panjang nabi Musa ‘alaihis salam melawan Fir’aun dan kerasnya hati bani Israil, kisah kesabaran nabi Sulaiman yang tidak menggunakan kerajaannya untuk berlaku zhalim dan foya-foya.
Setelah mengetahui perbandingan  ini perlukah kita membandingkan Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dengan sahabat, para ulama dan orang-orang shalih? Atau membandingkan dengan ujian dan cobaan serta kesabaran kita yang sedikit saja terkena ujian langsung berkeluh kesah?

Kemudian bentuk ujian dan cobaan lebih berat Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam yang lain:
- Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam jika demam, maka jika sakit, beratnya dua kali lipat:
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu dia berkata: Aku pernah menjenguk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sakit, sepertinya beliau sedang merasakan rasa sakit yang parah. Maka aku berkata:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ لَتُوعَكُ وَعْكًا شَدِيدًا؟ قَالَ: «أَجَلْ، إِنِّي أُوعَكُ كَمَا يُوعَكُ رَجُلاَنِ مِنْكُمْ» قُلْتُ: ذَلِكَ أَنَّ لَكَ أَجْرَيْنِ؟ قَالَ: «أَجَلْ، ذَلِكَ كَذَلِك
“Sepertinya anda sedang merasakan rasa sakit yang amat berat”, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “iya benar, aku sakit sebagimana rasa sakit dua orang kalian [dua kali lipat]”, aku berkata, “oleh karena itukah anda mendapatkan pahala dua kali lipat.” Beliau menjawab, “Benar, karena hal itu”. (HR. Al-Bukhari no. 5648 dan Muslim no. 2571)
- Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam harus menanggung sembilan istri. Lho bukannya enak istri banyak? Silahkan tanya kepada meraka yang mempunyai hanya dua istri, bagaimana repot dan susahnya mengurus mereka dengan penuh keadilan dan tanggung jawab. Bagaimana membagi waktu, membagi perasaan. Terkadang bagi yang punya satu istri saja terkadang kelabakan mengurus dan mendidik satu istri terutama ketika “bengkoknya” datang atau sedang sensitif karena haidh.
Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam ikhlas menjalankan takdirnya, menikah pertama kali dengan janda sebagai suami ketiga, dan beberapa istrinya telah bersuami dua kali sebelumnya. Mampukah kita demikian?,melawan rasa cemburu dengan suami-suami sebelumnya? Dan sebagian istri beliau ketika menikah berumur di atas 40 tahun. Mampukah kita demikian, maukah kita menikah dengan wanita berumur (atau sekarang disebut –maaf- “tante-tante”).
Dan para istri Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam semuanya ridha dengan beliau. Malahan yang ada adalah banyak cerita bahwa istri-istri beliau yang menyusahkan Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam . dan belau paling baik terhadap istri-istri beliau.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” (HR. Tirmidzi dan beliau mengomentari bahwa hadits ini hasan gharib sahih. Ibnu Hibban dan Al Albani menilai hadits tersebut shahih).
Dan komentar salah satu istri beliau, A’isyah radhiallahu ‘anha berkata,
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
“Akhlak beliau adalah Al-Quran” [HR. Muslim no. 746, Abu Dawud no. 1342 dan Ahmad 6/54]
Jika demikian, bolehkah kita meminta ujian, agar derajat kita naik?
Jawabannya, tidak boleh, karena ketika kita tertimpa ujian, belum tentu kita mampu menghadapinya. Karena iman kita lemah. Sebagaimana kita dilarang berharap-harap bertemu musuh, yang bertemu musuh berupakan ujian.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ، واسألوا الله الْعَافِيَةَ
“Jangan berharap bertemu musuh, dan memintalah afiah (kesehatan dan keselamatan) kepada Allah”. (HR.Bukhari no. 7237)
Setelah mengetahui semua ini, janganlah kita langsung berkeluh kesah ketika mendapatkan ujian yang kecil, langsung putus asa dan berprasangka negatif kepada Allah. Mari kita membaca buku-buku dan artikel tentang ujian dan kesabaran. Jangan harap kita masuk surga tanpa ada ujian.
Allah Ta’ala berfirman,
أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَْ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” [Al-Ankabut: 2-3]
Kemudian sebagai penutup, inilah gambaran cobaan para nabi dan orang shalih sebelum kita, bantuan baru datang ketika dada-dada mereka hampir sesak dan sangat lama menanti.
Allah Ta’ala berfirman,
أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْاْ مِن قَبْلِكُم مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاء وَالضَّرَّاء وَزُلْزِلُواْ حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللّهِ قَرِيبٌ
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “kapankah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.




Read More..

Setiap Ucapan Akan Masuk Catatan Amal


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Sebuah ayat yang menarik sekali untuk dikaji yang berisi pelajaran agar kita pintar-pintar menjaga lisan. Ayat tersebut terdapat dalam surat Qaaf tepatnya ayat 18.
Allah Ta’ala berfirman,
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaaf: 18)
Ucapan yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah yang diucapkan oleh manusia, keturunan Adam. Ucapan tersebut dicatat oleh malaikat yang sifatnya roqib dan ‘atid yaitu senantiasa dekat dan tidak pernah lepas dari seorang hamba. Malaikat tersebut tidak akan membiarkan satu kalimat dan satu gerakan melainkan ia akan mencatatnya. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ (10) كِرَامًا كَاتِبِينَ (11) يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ (12)
“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Infithar: 10-12)
Apakah semua perkataan akan dicatat? Apakah hanya yang bernilai pahala dan dosa saja yang dicatat? Ataukah perkataan yang bernilai netral pun dicatat?
Tentang masalah ini para ulama ada dua pendapat. Ada ulama yang mengatakan bahwa yang dicatat hanyalah yang bernilai pahala dan dosa. Namun jika kita melihat dari tekstual ayat, yang dimaksud ucapan dalam ayat tersebut adalah ucapan apa saja, sampai-sampai ucapan yang mubah sekalipun. Akan tetapi, untuk masalah manakah yang kena hukuman, tentu saja amalan yang dinilai berpahala dan dinilai dosa.
Sebagian ulama yang berpendapat bahwa semua ucapan yang bernilai netral (tidak bernilai pahala atau dosa) akan masuk dalam lembaran catatan amalan, sampai-sampai punya sikap yang cukup hati-hati dengan lisannya. Cobalah kita saksikan bagaimana kisah dari Imam Ahmad ketika beliau merintih sakit.
Imam Ahmad pernah didatangi oleh seseorang dan beliau dalam keadaan sakit. Kemudian beliau merintih kala itu. Lalu ada yang berkata kepadanya (yaitu Thowus, seorang tabi’in yang terkenal), “Sesungguhnya rintihan sakit juga dicatat (oleh malaikat).” Setelah mendengar nasehat itu, Imam Ahmad langsung diam, dan beliau tidak merintih lagi. Beliau takut jika merintih sakit, rintihannya tersebut akan dicatat oleh malaikat.
Coba bayangkan bahwa perbuatan yang asalnya wajar-wajar saja ketika sakit, Imam Ahmad pun tidak ingin melakukannya karena beliau takut perbuatannya tadi walaupun dirasa ringan masuk dalam catatan malaikat. Oleh karena itu, beliau rahimahullah pun menahan lisannya. Barangkali saja rintihan tersebut dicatat dan malah dinilai sebagai dosa nantinya. Barangkali rintihan tersebut ada karena bentuk tidak sabar.
Mampukah kita selalu memperhatikan lisan?
Sungguh nasehat yang amat bagus dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang seharusnya kita bisa resapi dalam-dalam dan selalu mengingatnya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِى بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ
“Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.” (HR. Muslim no. 2988)
Intinya, penting sekali memperhatikan lisan sebelum berucap. An Nawawi rahimahullah menyampaikan dalam kitabnya Riyadhush Sholihin nasehat yang amat bagus, “Ketahuilah bahwa sepatutnya setiap orang yang telah dibebani berbagai kewajiban untuk menahan lisannya dalam setiap ucapan kecuali ucapan yang jelas maslahatnya. Jika suatu ucapan sama saja antara maslahat dan bahayanya, maka menahan lisan untuk tidak berbicara ketika itu serasa lebih baik. Karena boleh saja perkataan yang asalnya mubah beralih menjadi haram atau makruh. Inilah yang seringkali terjadi dalam keseharian. Jalan selamat adalah kita menahan lisan dalam kondisi itu.”
Jika lisan ini benar-benar dijaga, maka anggota tubuh lainnya pun akan baik. Karena lisan adalah interpretasi dari apa yang ada dalam hati dan hati adalah tanda baik seluruh amalan lainnya. Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنِ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنِ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا
“Bila manusia berada di waktu pagi, seluruh anggota badan akan patuh pada lisan. Lalu anggota badan tersebut berkata pada lisan: Takutlah pada Allah bersama kami, kami bergantung padamu. Bila engkau lurus kami pun akan lurus dan bila engkau bengkok (menyimpang) kami pun akan seperti itu.” (HR. Tirmidzi no. 2407. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Hadits ini pertanda bahwa jika lisan itu baik, maka anggota tubuh lainnya pun akan ikut baik.
Semoga yang singkat ini dari kajian tafsir surat Qaaf bermanfaat. Ya Allah, tolonglah kami untuk selalu menjaga lisan kami ini agar tidak terjerumus dalam kesalahan.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Referensi:
Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhish Sholihin, Salim bin ‘Ied Al Hilali, Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, 1430 H.
Liqo’ Al Bab Al Maftuh, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, kaset no. 11
Shahih Tafsir Ibnu Katsir, Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, Darul Fawaid dan Dar Ibni Rajab, 4/278.

Faedah Tafsir di Malam Kelima Ramadhan, 14 Agustus 2010 di Panggang-Gunung Kidul

Read More..

PERNIKAHAN DINI




Tanpa disebutin kepanjangan inisial "PD", sobat muda sudah ngelontok dengan inisial ini, karena hampir saban hari kita melihat klip promo sinetron "Pernikahan Dini' di RCTI yang dibawakan oleh Syahrul Gunawan dan Agnes Monica.

Sinetron ini begitu mengena bagi pemirsanya, terutama bagi remaja yang emang dekat dengan idiom 'PD' alias percaya diri. Sinetron yang menceritakan Pak Duta (diperankan Rudy Salam) yang posesive membuat kedua anaknya tertekan; diperankan Attalarik Syach dan Agnes Monica. Sinetron berdurasi 60 menit ini mengisahkan dua kakak beradik yang mendambakan kasih sayang. Ortu mereka terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing, sehingga tidak ada komunikasi yang baik antara ortu dan anak. Kalo udah begini, bisa ditebak kan, bagaimana liarnya anak-anak. Maka wajar kalo kemudian mereka terjun dalam kehidupan yang dia anggap sebagai jalan terbaik yang harus dipilih. Termasuk pergaulan bebas. Bebas yang bablas. Wes…. hewes hewes, bablas, imanne!!!

Rating alias nilai tayangan unggulan, menunjukkan sinetron "PD" ini berada di atas angin, hasil survey dari ACNielsen periode 24-30 Juni 2001 lalu, ternyata menghasilkan bahwa rating Pernikahan Dini sebesar 21,8 lebih baik dari "Wah…Cantiknya"-nya SCTV, yang pada pekan tersebut melorot menjadi 19. Dan dalam ranking, Pernikahan Dini juga berada pada posisi pertama, di atas "Wah…Cantiknya" yang menempati urutan kedua. Rupanya Pernikahan Dini akan tetap menempati posisi teratas. Kenapa bisa begitu? Pembesaran konflik, kejelasan karakter dan pelebaran peristiwa itulah yang bikin penasaran dan menunggu bagaimana bingungnya menjadi orang tua yang masih sangat belia? bagaimana kelanjutan konflik-konflik intern, yang berkembang menjadi perseteruan extern antara masing-masing orang tua pasangan tersebut. (Sumber:Buletin Sinetron)

Boleh dibilang, sinetron "PD" ini ingin menggambarkan Realita yang ada dalam pergaulan remaja saat ini. Kalo boleh mengatakan, Pernikahan Dini rada-rada mirip serial "Dawson's Creek"-nya TPI. Tema-nya nggak lepas dari persoalan gaul remaja. Hanya saja, "PD" lebih fokus ngebahas tentang fenomena MBA alias Married by Accident. Gimana sih, kalo itu kejadian? Kayak apa sih tersiksanya? Bagaimana mengatasi kehidupan seperti itu? Bagaimana dengan masa depan kehidupan korban MBA dan juga anaknya? Kenapa bisa terjadi seperti itu? Pertanyaan-pertanyaan seputar itulah yang bikin remaja kita keranjingan menggilai sinetron ini.

Pernikahan Dini emang mewakili banget kehidupan remaja. Khususnya ketika remaja yang bergaul bebas terlanjur hamil. Sementara untuk melakukan aborsi takut, udah gitu kebetulan gacoannya mau bertanggung-jawab untuk menikahinya --meski dengan paksaan. Akhirnya ya, memilih membesarkan calon anaknya meski dengan menyandang status MBA. Namun, sebagai catatan saja, konon kabarnya Agnes Monica malah bangga dan makin cuek. Bayangkan, setelah bermain di sinetron ''Pernikahan Dini'', Agnes menjadi pe-de bahwa MBA (married by accident) merupakan solusi terbaik untuk mengatasi dampak pacaran remaja yang berbuah kehamilan. Walah, bener-bener kesleo otaknya anak ini!

Memang benar, hal yang paling menakutkan bagi remaja dalam pergaulan bebas mereka adalah masalah kehamilan dan penyakit menular. Sehingga, saat pacaran mereka selektif banget dan ketat supaya nggak terjadi kehamilan atawa tertular penyakit seksual Tapi teman remaja lupa, bahwa akar masalahnya justru aktivitas pacarannya itu. Coba, dua insan berlainan jenis yang sedang dimabuk asmara, pasti pengennya deket-deketan aja. Kalo kebetulan jauh, tinggal pencet angka-angka di telepon atawa ponsel. Lalu ketawa-ketiwi melepas kerinduan, malah nggak jarang diselingi bicara "ngalor-ngidul" yang ada sangkut pautnya dengan masalah gaul mereka. Dan bila ada kesempatan, langsung bikin janji untuk ketemu. Kalo udah gitu, jangan harap kamu bisa mengendalikan diri. Ujungnya? Hubungan "luar-dalam" pun tak mustahil bisa kamu jalani. Ih, naudzubillahi mindzalik

Pacaran = kredit zina

Tuduh-menuduh atawa tuding-menuding tentang siapa yang kudu bertanggung-jawab, boleh-boleh saja. Namun ingat, kita kudu jeli dan jangan asal tuduh, kayak gayanya pemerintah Amrik atas peristiwa 11 September kemarin, dimana Bush langsung menuduh kelompok Islam berada di balik teror tersebut. Seperti kita ketahui, saat itu lima pesawat jumbojet milik maskapai penerbangan AS jatuh dan tiga di antaranya sukses menghancurkan "simbol" kedigdayaan AS; gedung WTC (World Trade Center) dan gedung Pentagon. Nah, kalo dalam masalah MBA, kamu menuduh bahwa yang salah cewek or cowok, tentu itu nggak kena dong. Sebab, justru masalah utamanya adalah aktivitas pacarannya itu, pacaranlah biang keladinya. Jadi yang kudu dituduh or ditunjuk hidung adalah budaya jahiliyah ini. Akibat tradisi inilah hubungan antara pria dan wanita menjadi rusak, tak lagi bermakna dan nggak sakral.

Kenapa sih kamu kok kayaknya merasa kudu menjalani aktivitas pacaran? Ayo, yang merasa melakukan perbuatan dosa ini tolong jawab, tapi dalam hati masing-masing (emang dengerinnya gimana?) Pengen kenal lebih dekat? Pengen ada teman ngobrol untuk curhat? Agar bisa disebut laku? Pengen nyari suasana baru? Rugi, donk kalo ada doski cakep dianggurin? Tapi yang pasti, pacaran udah menjadi gaya hidup remaja. Bener, kayaknya kalo nggak melakukan itu takut dianggap kuno, ngeri kalo dianggap kuper, alergi kalo mendapat sebutan nggak laku, minder kalo digelari anak yang nggak punya "nafsu", atau takut mendapat predikat anak yang punya kelainan jiwa. Wah, pokoknya banyak banget sebutan yang sengaja terus diciptakan supaya remaja ikutan dengan gaya hidup jahiliyah ini. Maka jangan heran bila semua media massa memberikan gambaran yang dibutuhkan dan harus dijalani kaum remaja, dan pacaran adalah salah satunya. Pokoke, kalo nggak pacaran, nggak gaul deh. Kalo nggak rendezvous, nggak seru. Aduh, kontan aja teman remaja yang tekor iman bisa langsung percaya dengan pameo ini. Gaswat bin bahaya, sobat.

Apa kamu mau ikut-ikutan gaya hidup remaja Barat yang liar bin binal? Perlu kamu tahu, bahwa anak gadis di sana, pada usia 17 belum juga dapat gacoan, ortunya resah, termasuk anaknya dong. Maka tak usah kaget atawa heran, kalo mereka kemudian diberikan kebebasan oleh ortunya untuk bergaul dengan teman pria mereka dengan sesuka mereka. Dengan begitu, angka seks bebas di negara yang emang membiarkan terjadi begitu, terbukti tinggi. Nah, kasus 'PD' bisa terjadi bila hubungan antara dua lawan jenis ini begitu dekat dan lengket. Sebab, nggak mungkin terjadi hal begituan bila hubungannya terjaga dengan benar dan baik. Sementara dalam pacaran, kamu tahu sendiri kan bagaimana aktivitasnya? Begitulah gambaran perbuatan yang nyerempet-nyerempet dengan perzinaan. Dan sudah jelas bahwa aktivtas z-i-n-a itu adalah haram. (QS al-Isrâ [17]: 32)

Nikah dipersulit, gaul bebas dipermudah

Acapkali manusia suka kebalik-balik dalam menilai suatu perbuatan.Sebab, yang jadi patokan mereka dalam berbuat cuma mengandalkan perasaan dan ogah menggunakan akalnya. Walhasil, sering dibikin pusing oleh keputusannya sendiri. Nah, dalam masalah pergaulan bebas, masyarakat suka menilai bahwa baik dan buruknya suatu perbuatan hanya dilihat dari apakah perbuatan itu menguntungkan baginya secara materi atau tidak. Itu salah besar, brur. Suer. Sebab, yang kita anggap baik, siapa tahu malah jelek dalam pandangan Allah. Dan begitupun sebaliknya. Firman Allah Swt: "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" (terj. QS al-Baqarah : 216).

Dipikir-pikir, mau ibadah aja kok sulitnya minta ampun, tapi mau maksiat malah dikasih jalan bebas hambatan. Wah, kebalik-kebalik emang. Coba, untuk nikah aja harus pake ngurus beragam administrasi. Mending kalo cuma ngisi formulir doang, ini pake ngisi amplop dengan duit pelicin segala. Berabe kan?. Padahal itu baru melangkah. Berikutnya, kita dihadang dengan PP yang membatasi usia pernikahan dalam UU Perkawinan, terus juga adanya larangan nggak boleh menikah saat masih sekolah. Aduh, seabrek alasan untuk menghambat pernikahan.Itu termasuk kendala eksternal. Selain itu, memang ada juga kendala internal, yakni belum siap mental dan belum mapan alias nggak punya biaya.

Bagi sebagian remaja bisa jadi dengan adanya sinetron "PD" ini makin menambah keyakinannya bahwa MBA adalah jalan terbaik bila saat pacaran mereka kebablasan. Bukan tak mungkin pula bila kemudian ada remaja yang nekat menghamili pacarnya bila hubungan mereka tak direstui oleh ortunya. Gawat kan? Dan ini sebagai bukti bahwa ternyata nikah dipersulit-kecuali kalo "kecelakaan", tapi anehnya, perilaku gaul bebas malah dipermudah.Astaghfirallah! Inilah rusaknya sistem demokrasi. Inilah amburadulnya sistem kapitalisme. Dan yang pasti, jangan sampe "kasus" sinetron Pernikahan Dini ini kemudian mengilhami para remaja, bahwa pacaran tetep jalan terus, kalo sampe "kejadian", gampang, tinggal minta dikawinin aja. Aduh, dengan begitu, jadi nggak takut lagi dengan perbuatan maksiat. Bener-bener ngegampangin banget dalam urusan dosa.

Dalih orang yang berpacaran sungguh tidak tepat, karena bagaimanapun tidak bisa kita mengenal lawan jenis harus dengan pacaran, itu alasan yang terlalu dibuat-buat. Buktinya orang pacaran kemudian melanjutkan hubungannya dengan mahligai perkawinan tidak sedikit yang akhirnya cerai begitu saja, apakah itu bisa menjadi alasan bahwa pacaran bisa melanggengkan hubungan cinta karena telah mengenal lawan jenisnya?Rupanya kita harus cepat-cepat ninggalin pacaran sebagai aktivitas yang tidak dibenarkan syara' dan malah menimbulkan masalah besar.

So, apapun yang ditayangkan oleh "PD" entah itu kemajuan zaman, kehidupan glamour, cara gaul atau yang lainnya, tapi satu hal yang pasti sedang diusung oleh sinetron "PD" adalah legalitas atau pembolehan pacaran untuk dilakukan. Kalo di sinetron "PD" pacarannya Gunawan dan Dini kebablasan, maka pesan yang disampaikan oleh sinetron adalah boleh Pacaran Dulu tapi jangan sampe MBA. Namun yang namanya barang buruk tidak bisa buat contoh, bagaimanapun legalitas pacaran lewat sinetron-sinetron semacam "PD" tidaklah menyelesaikan problematika seks, yang ada justru timbulnya masalah lain yang lebih ruwet bin njlimet.

Kehamilan Dini itulah puncak dari sinetron ini, kemudian harus diteruskan pernikahan dini mereka. Trus, ortu mereka sudah sepakat untuk mengawinkan mereka, meski dengan susah payah. Nah, kamu musti jeli sobat, justru dari situlah, sinetron ini hendak meracuni remaja bahwa pacaran tetap boleh, kalaupun nanti hamil itu urusan belakangan, jangan diaborsi itu tidak manusiawi, begitulah kira-kira pesan yang dibawa "PD". Jadi kalau ada yang mau pacaran monggo, silahkan, kalo nanti hamil, nikah aja !!! Wah, itu bener-bener cara berpikir yang miring alias tidak waras.

Come Back To Islam

Kita tentu sudah paham yang namanya remaja adalah manusia, maka pembahasan mengenai remaja tidak bisa dilepaskan dari pembahasan dia sebagai manusia. Maka dari itu kebutuhan remaja akan suka terhadap lawan jenisnya tidak bisa dipisahkan dari pembahasan manusia, bahwa manusia mempunyai potensi kehidupan yang dinamis yang senantiasa mau tidak mau membuat manusia beraktivitas dalam kehidupan ini.

Kecenderungan remaja untuk berkelompok, bergaul dengan sesama dan ingin diakui eksistensinya adalah merupakan hal yang fitrah/manusiawi, kecenderungan seperti itu bukan dihilangkan, tetapi boleh dipenuhi, hanya pemenuhannya diatur. Ketika manusia butuh makan (yang merupakan potensi manusia/ kebutuhan jasmani), kita tidak dilarang untuk makan, namun ketika kita ingin makan, mulai dari apa yang dimakan, bagaimana cara mendapatkan atau bagaimana cara makan itu ditentukan aturannya. Analog dengan hal tersebut, kebutuhan remaja untuk suka terhadap lawan jenis bukanlah dihilangkan tapi diatur.

Oleh karena itu dibutuhkan suatu aturan yang bukan aturan seperti yang diterapkan sekarang yang menerapkan paham kebebasan. Tapi dibutuhkan suatu aturan yang sesuai fitrah manusia yang tentu saja kalau dimunculkan siapa yang lebih tahu fitrah manusia adalah yang membuat manusia dalam hal ini adalah Allah, maka dari itu kita harus merujuk kepada Allah, bagaimana Allah mengatur pemenuhan kebutuhan remaja akan suka terhadap lawan jenis. Sebab Allah lebih tahu 'benda ciptaanya' yakni manusia sehingga DIA telah menciptakan aturan yang tentu saja sesuai fitrah manusia dan tuntas menyelesaikannya. Kita semua yakin Allah maha tahu, tentu saja kemahatuan Allah juga meliputi tentang manusia dan masalahnya. Sehinggga Allah berifrman tentang hal tersebut : "Janganlah kalian mendekati zina, karena zina itu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk" (terj. QS. Al-Isra 32)

Islam tidak hanya melarang zina, aktivitas yang mendekati zina pun dilarang seperti halnya kredit zina sehingga Islam punya langkah preventifnya, misalnya disyariatkannya pakaian muslimah bagi perempuan (jilbab) yang tidak ketat, tidak tembus pandang, tidak menyerupai pakaian laki-laki dll (terj. Qs. al-Ahzab 53, An-Nuur 31). Langkah preventif yang lain misalnya mengenai pergaulan/interaksi antar lawan jenis, Islam mengatur laki-perempuan dilarang berduan tanpa disertai mahramnya sabda Rasulullah Saw, yang artinya : "Janganlah seorang laki-laki berdua-duan dengan seorang wanita, tanpa disertai muhrimnya"

Wanita tidak diperbolehkan berhias berlebihan, menampakkan perhiasannya di depan umum. Seks itu terjadi karena ada rangsangan jika ada rangsangan untuk melakukan seks maka terjadilah seks itu, bisa saja hanya karena rangsangan bau saja terjadi hal tersebut. Misalnya wanita dilarang memakai parfum. "Apabila ada perempuan memakai wewangian, kemudian lewat di suatu kaum, dan supaya kaum tersebut mencium wewangiannya, maka wanita tersebut pelacur. (terj. HR. Annassai)

Kecenderungan seseorang terhadap lawan jenis merupakan potensi kehidupan dalam hal ini adalah naluriah, naluri itu akan muncul jikalau, ada rangsangan dari luar diri manusia, rangsangan itu bisa berupa pemikiran-pemikiran yang menjurus kepada seksualitas atau hanya berupa bacaan dan atau tontonan berbau seks. Maka dari itu besar kecilnya frekuensi dari "naluri" berpacaran sangat tergantung dari banyak-sedikitnya kamu, mengkonsumsi fakta atau pemikiran tentang pacaran, kalo kamu masih sering nonton sinetron semacam "PD" trus kamu terhanyut dalam kisahnya sudah barang pasti, jadinya adalah pacaran.

Sobat, dalam ajaran agama kita telah diatur dengan jelas, bagaimana seharusnya kita bersikap dan bertingkah laku. Tentu supaya kita selamat di dunia dan di akhirat. Jadi sebetulnya, nikah dalam usia dini lebih baik ketimbang MBA. Nikah ibadah, gaul bebas maksiat.Namun, bila kamu masih belum mampu ke arah sana. Lebih baik hindari pacaran, seringlah berpuasa, dan fokus belajar, itu solusi yang terbaik friend daripada kamu pacaran sana, pacaran sini, apa yang didapat cuman senang doang, khan? Buat apa, brur, seneng di dunia ini tapi di akhirat nanti kamu bakal torok, hih. Nggak demen khan dibilang rugi? makanya ngaji Islam, biar kamu tambah PD alias percaya diri, bukan PD-nya Sahrul dan Agnes. (LBR).

Wallahu 'alam bishowab

Read More..

Problematika Mendasar Krisis Generasi dan Solusinya



Remaja atau lebih dikenal dengan ABG (Anak Baru Gedhe) memiliki keunikan tersendiri sehingga sering menjadi obyek perbincangan, baik sisi positif maupun negatifnya. Sekalipun remaja memiliki sisi positif, akan tetapi opini yang berkembang tentang remaja lebih mengarah pada sisi negatif. Potret buram remaja semakin terbukti, dengan munculnya data tentang kenakalan remaja, mulai tawuran, aborsi, hingga narkoba.

Menurut laporan Polda Metro Jaya Jakarta, akibat tawuran pelajar 1994 tercatat 10 pelajar tewas, 23 luka berat, 1158 bus rusak dan 1261 pelajar ditahan. Tahun 1995 meningkat, korban tewas 13 orang, 19 luka berat, 800 bus rusak dan 1245 orang pelajar ditahan. Tidak cukup itu saja, seperti yang ditulis oleh Republika, April 1996, di Bali sebagai gerbang masuknya budaya asing di negeri ini, dalam setahun tercatat sekitar 3000 remaja minta aborsi. Itu dikemukakan oleh dr. Nym Mangku Karmaya, wakil ketua pengurus harian daerah Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia, Bali. Menurut Karmaya pula, usia remaja putri yang minta aborsi berkisar 13-17 tahun. Umumnya mereka duduk di bangku SLTP dan SLTA, hal ini merupakan buah dari pergaulan yang mereka praktekkan dalam kehidupan mereka. Ditambah lagi kasus-kasus baru ini yang menimpa remaja seputar narkoba menambah buram potret buram remaja, sehingga sebutan remaja yang berprestasi, intelektual dan berakhlak seakan-akan hilang dari mereka.

Seperti pepatah " …. Panas setahun diganti hujan sehari" …… Tentunya, kita sebagai remaja tidak mau mendapat cap buruk terus menerus di tengah-tengah kehidupan ini, oleh karena itu kita harus mengetahui apa sebenarnya yang menyebabkan sampai hal ini terjadi? Dan bagaimana kita mengatasinya?

Kalau kita mengamati pembahasan perilaku remaja dulu hingga sekarang, maka kita akan dapat menyimpulkan bahwa perubahan perilaku seseorang tergantung pada persepsi/pemahaman yang ditentukan oleh informasi dan realitas/ fakta yang mendominasi dalam dirinya. Mereka mendapat informasi melalui media massa seperti TV, radio, majalah dan media yang lainnya atau lingkungan tempat mereka tinggal. Tayangan televisi mulai dari iklan, film-film barat yang mengajari pergaulan bebas seperi Melrose Place, Dawsons Greek, Beverly 90210 dan sederetan koran, majalah atau tabloid yang tidak lepas dari gambar porsa (porno biasa) dan porsi (porno istimewa)-dengan segala bentuk gambar bupati dan sekwilda-, paling tidak ikut berperan untuk membentuk karakter remaja ke arah kebebasan bergaul dan sex, dan hasilnya anda lihat sendiri mulai kasus MBA (married by accident), aborsi sampai AIDS.

Tayangan kekerasan juga ikut berpengaruh terhadap karakter emosional seseorang, sebagai salah satu bukti adalah peristiwa pembunuhan terhadap karakter emosional seseorang, sebagai salah satu bukti adalah peristiwa pembunuhan terkenal di Inggris yang menelan yang menelan seorang balita tahun 1993, James Bulger, sang korban, diculik saat ibunya di supermarket, kemudian sang penculik yang begitu terobsesi dengan tayangan kekerasan di TV dan Radio menyeretnya ke rel kereta, menghantamnya dengan bata, balok kayu dan besi, selanjutnya mayat sang bayi yang baru belajar berjalan itu diletakkan di rel tanpa ampun, tubuhnya tertelan dilindas kereta barang, pelakunya, dua bocah umur 10 tahun. Kontan jagat Inggris geger, masyarakat geram, vonispun dijatuhkan kepada keduanya diganjar hukuman tak terbatas buntutnya, hakim menghujat tayangan film dari video game yang menyandang unsur kekerasan yang diduga sebagai pemberi inspirasi kekerasan, kejahatan bagi 2 bocah ingusan tersebut.

Di samping faktor informasi dan fakta yang mendominasi, faktor kesempatan yang luas atau kelonggaran untuk melakukan tindakan maksiyat di tengah-tengah masyarakat, juga ikut berperan dalam meningkatkan kemerosotan moral remaja baik secara kualitas maupun kuantitas. Sikap masyarakat yang cuek dengan para remaja yang berlaku maksiat seakan-akan menjadi surat lisensi untuk meneruskan perbuatannya. Sedangkan negara yang seharusnya menjaga umatnya agar tidak bermaksiat pada Allah, malah memberikan sarana atau prasarana bahkan perlindungan melalui konstitusi yang dibuatnya. Maraknya film, video klip, gambar porno beredar di masyarakat, berdirinya pabrik minuman keras dan tempat-tempat maksiat legal adalah merupakan bukti yang jelas.

Bagaimana Mengatasinya ?

Remaja yang seharusnya menjadi penerus cita-cita agama dan negaranya seolah-seolah hanya fatamorgana setelah melihat fenomena diatas. Akan tetapi, sikap putus asa bukan jawabannya, melainkan harus diupayakan solusinya. Diantara upaya yang bisa kita lakukan adalah meningkatkan pemahamannya tentang Islam dalam seluruh aspek kehidupannya, dengan kata lain membentuk pola pikir Islam dengan sering mengisi otak dengan informasi Islam, baik lewat membaca atau mengkajinya.

Sedangkan ukuran terbentuknya pola pikir Islam dalam diri remaja adalah kemampuan remaja untuk menilai setiap pemikiran, fakta dan realita serta kejadian berdasarkan standar Islam, kemudian menjadikan pemahamannya sebagai bentuk praktis dalam aktivitasnya, sampai tertanam dalam dirinya pola sikap Islam, yaitu kecenderungan untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu yang berdasarkan Islam. Sehingga remaja akan memiliki kepribadian Islam yang kaffah yang mampu menilai dan menyikapi setiap pemikiran, fakta dan peristiwa atau kejadian yang berkembang di masyarakat (Qs. 2 : 208).

Upaya inI dapat dilakukan, baik oleh remaja yang telah memiliki kesadaran Islam yang tinggi, keluarga dan masyarakat, serta negara secara serentak. Remaja mentranformasikan pemahaman keislaman yang kaffah kepada remaja yang lain, keluarga memberikan perhatian dan suri tauladan kepada remaja dari pelaksanaan nilai-nilai Islam, masyarakat mengambil peran control terhadap pola pola perilaku remaja, dan negara beserta perangkatnya -melalui institusi atau undang-undang beserta sanksi-sanksinya- melaksanakannya dengan tegas dan memberikan sanksi/hukuman terhadap segala bentuk kemaksiatan (segala sesuatu yang bertentangan dengan Islam).


Read More..